mengatasi anak susah makan
mommy posting ginian, krn perlu.. hehehe..
patut d baca berkali2.. dapet dari milis sebelah
—
Masalah
muncul ketika bayi memasuki masa
transisi dari makanan cair ke makanan semipadat.
Di usia 6 bulan,
kebutuhan asupan
makan si kecil mengalami perubahan. ASI saja tidak bisa diandalkan
untuk
memenuhi kebutuhan nutrisinya. Itulah mengapa di usia ini si kecil
membutuhkan
makanan pendamping ASI (MP-ASI).
Namun tak
selamanya
pemberian MP-ASI berjalan mulus. Ada begitu banyak bentuk penolakan
makan yang
dilakukan bayi. Di antaranya melepehkan atau menyembur-nyemburkan
makanan yang
sudah disuapkan ke mulutnya. Bahkan, tidak sedikit yang terang-terangan
menolak
dengan memalingkan mukanya atau menutup mulutnya rapat-rapat. Jangan
terburu-buru menyalahkan anak, apalagi mencapnya dengan sebutan “bayi
rewel”, “susah diurus”, “bikin repot” dan sebagainya.
Siapa tahu penolakan-penolakan tersebut justru muncul karena
organ-organ
pencernaan di mulutnya belum siap menerima makanan yang diberikan.
Entah karena
tekstur makanannya terlalu kasar, terlalu kental, atau porsinya tidak
sesuai
dengan kemampuan menelan bayi.
Ada juga bayi
yang
awalnya tak pernah menolak makan, tapi saat berusia 8 bulan atau lebih
baru
rewel soal makan. Kemungkinan, bentuk penolakan tersebut merupakan
“aksi
protes” terhadap citarasa makanan yang diberikan. Ingat, anak usia ini
sudah
mengenal rasa apa yang disukainya, apakah manis atau asin/gurih.
Bisa juga,penolakantersebut merupakan wujud dari ketidaksukaannya terhadap sosok si
pemberi makan.
Meski masih bayi, anak sudah bisa mengenali mana sosok yang bersahabat
dan mana
pula yang tak sabaran hingga cenderung main paksa. Perlakuan yang buruk
tentu
akan terekam dalam benak anak yang kemudian mendorongnya memasang
“benteng
pertahanan” lewat bentuk penolakan.
KIAT MEMBERI
MAKAN
Untuk mencegah
dan
menangani masalah sulit makan pada bayi, setidaknya orang tua harus
mengupayakan hal-hal berikut:
- Mengakrabkan
diri agar
disukai di kecil.
- Membangun
suasana makan
yang menyenangkan, tidak dengan diam membisu atau bersikap formal.
Selingi
dengan canda ria sambil sesekali mengajaknya ngobrol dan
bermain.
- Sajikan
semenarik
mungkin, baik makanan itu sendiri maupun perangkat sajinya.
- Menguasai
ilmu mengenai
teknik maupun tahapan pemberian makan pada bayi.
* USIA 6-7
BULAN
MP-ASI
dikenalkan secara
bertahap sebab mekanisme menelan dan kemampuan mencerna si kecil masih
lemah.
Jadi, mulailah dengan makanan yang lunak dan bersifat cair lebih dulu,
berupa
bubur susu yang encer, kemudian semakin kental.
Selain itu,
selalu
berikan lebih dulu dalam jumlah sedikit. Seiring dengan berjalannya
waktu,
konsentrasi buburnya bisa dipadatkan dan porsinya dapat ditingkatkan.
Mengapa
komposisi kekentalan harus sesuai? Karena kalau terlalu encer tentu
kandungan
gizinya tidak maksimal. Sebaliknya, jika kelewat kental bukan tidak
mungkin
malah mendatangkan masalah baru, yakni susah buang air besar.
Yang harus
dijadikan
patokan, tetap berikan ASI kapan pun si kecil mau. Namun usahakan
jangan sampai
membuatnya terlalu kenyang karena dia toh harus mengonsumsi MP-ASI-nya.
Jangan
lupa, biasakan pula ia mengonsumsi buah-buahan yang manis rasanya
seperti
pepaya, pisang, atau jeruk. Buah-buahan ini bisa disajikan dalam bentuk
jus
atau dicampur dengan makanan lainnya. Ada baiknya pula jika diberikan
biskuit
khusus bayi. Biskuit semacam ini, selain melatih kemampuannya
mengunyah, juga
amat disarankan untuk merangsang pertumbuhan giginya.
* USIA 8-9
BULAN
Di usia ini,
ASI tetap
diberikan kapan pun bayi mau. Akan tetapi, mulailah perkenalkan makanan
dengan
tekstur yang lebih padat, seperti bubur susu (berbahan buah atau
tepung).
Mengenai porsinya, tambahkan sesuai kebutuhan dan kondisi bayi.
Contohnya, bayi
dengan BB dan panjang tubuh lebih tentu butuh asupan lebih banyak
ketimbang
bayi dengan panjang tubuh dan BB yang lebih kecil. Bubur saring bisa
juga
dijadikan alternatif pilihan bila kebetulan tidak tersedia buah yang
segar.
Bahan-bahannya bisa berupa beras, makaroni, kentang, kacang hijau, atau
roti.
Namun perhatikan, sebelum diberikan harus disaring lebih dulu.
* USIA 9-12
BULAN
Saat berusia 9
bulan dan
seterusnya, bayi sudah mampu mencerna makanan semipadat. Yang dimaksud
adalah
nasi tim beserta lauk pauknya. Jangan lupa, biasanya bagian atas nasi
tim lebih
keras dibandingkan bagian bawahnya. Nah, agar bayi tidak menolak
makanan baru
ini, aduklah dulu agar kepadatannya merata.
Bubur saring,
buah kerok
atau jus, dan ASI atau penggantinya berupa susu formula tetap
diberikan.
Sebagai selingan, bayi boleh diberi bubur susu berbahan dasar jeruk
atau pisang
untuk memperkaya pengenalan rasanya. Tak ada salahnya pula bila
sesekali
mengenalkan bumbu alami dan teknik pengolahan makanan sederhan. Semisal
tumis
ikan dengan bawang putih dan mentega atau sup dimasak dengan bawang
merah,
bawang putih, dan daun bawang. Untuk anak usia ini, garam sudah boleh
diberikan
sedikit.
Di usia
setahun,
diharapkan si kecil sudah bisa makan sesuai menu keluarga. Namun jangan
lupa
memperhatikan kemampuan mengunyah dan menelannya. Potong kecil-kecil
lauk
pauknya agar mudah masuk ke mulut mungilnya, mudah pula untuk dikunyah,
dan
ditelan serta dicerna organ tubuhnya.
Gazali
Solahuddin.
Foto: Ferdi/nakita
Konsultan Ahli:
Alzena Masykuori, M.Psi
psikolog dari Cikal Sehat-Sehat, Jakarta Selatan
TRIK
MENGHADAPI PENOLAKAN
Walaupun
hal-hal yang
dianjurkan tadi sudah dicoba, mungkin sekali si kecil tetap melancarkan
penolakan. Kalau ini yang terjadi, berarti eksplorasi yang dilakukan
orang tua
belum maksimal. Lebih baik, terus lakukan pencarian untuk mengetahui
seperti
apa makanan yang disukainya, bagaimana cara memberi makan yang disukai
dan tidak
disukai dan sebagainya. Sukses tidaknya penelusuran ini tidak terlepas
dari
kesabaran, ketenangan, dan keterampilan orang tua menghadapi ulah si
kecil saat
melakukan penolakan.
* Tolak MP-ASI, tapi mau ASI
Jika menghadapi
kondisi
seperti ini, pemberian makanan secara bertahap harus dirancang. Memang
sih
waktu makannya jadi jauh lebih lama. Contohnya, berikan 1 sendok MP-ASI
setiap
jadwal makan tiba dengan konsentrasi makanannya lebih cair dibanding
ukuran
standar yang dianjurkan di kemasan. Setiap hari porsi ini harus
ditingkatkan,
dari 1 sendok menjadi 2 sendok hingga akhirnya mencapai 1 mangkuk.
Perlu
diingat, jadwal makannya pun harus diberikan secara konstan dan
berkesinambungan. Mengapa ini penting? Karena si kecil mau tidak mau
harus
diajarkan keteraturan untuk membentuk kedisiplinan.
* Dilepeh
Jika ini
terjadi pada
bayi di bawah usia 8 bulan, kemungkinan besar hanya karena refleks
anak. Ingat,
MP-ASI yang diberikan merupakan sesuatu yang “asing” baginya, lo.
Tapi kalau si kecil sudah berusia 8 bulan atau lebih, maka orang tua
harus
cermat. Apakah karena memang makanannya itu yang tidak enak karena
terlalu
asin, terlalu manis, kelewat kasar atau malah kelewat lembut? Atau
apakah orang
tua memberikannya dalam porsi terlalu banyak, terlalu panas/dingin dan
sebagainya. Nah, agar si kecil tidak melakukan penolakan,
pandai-pandailah
mengatur strategi dengan cara menggonta-ganti menu, rasa maupun tekstur
makanannya. Jangan lupa pula untuk senantiasa mengomunikasikannya pada
si
kecil. Contohnya, “Kenapa, Sayang, kok dilepeh? Terlalu asin, ya? Nah,
sekarang sudah enggak asin lagi.”
* Diemut
Ini juga salah
satu
bentuk penolakan yang kerap dilakukan bayi. Anak yang makannya ngemut
umumnya karena alat-alat pencernaan di rongga mulutnya belum siap
menerima MP-ASI.
Jika memang kebiasaan ngemut-nya karena gangguan fisik, si
kecil besar
kemungkinan juga akan mengalami gangguan bicara. Untuk memastikannya,
kasus
seperti ini lebih baik segera diperiksakan ke dokter.
* Disembur
Sesekali si
kecil mungkin
saja menyemburkan makanannya. Itu hal yang wajar terjadi sebagai salah
satu
bentuk eksplorasinya. Namun orang tua harus menjelaskan pada anak,
semisal
dengan mengatakan, “Lucu, ya, Dek, bunyinya. Tapi makanan itu nanti
harus
ditelan ya.” Kalau penjelasan seperti itu terus-menerus diutarakan,
anak
tentu akan tahu mana perilaku yang tak baik alias tak boleh diulanginya
lagi.
Akan tetapi, jika setiap kali makan si kecil selalu menyemburkan
santapannya,
boleh jadi ia memang tidak berselera pada makanan tersebut. Kemungkinan
lain
cara makan ataupun suasana makan yang dirasa tak nyaman baginya.
Lagi-lagi
orang tualah yang harus kembali mengeksplorasi cara lain agar si kecil
mau
makan.
* Dimuntahkan
Perilaku
memuntahkan
makanan bisa akibat penolakan ataupun bukan. Kalau ternyata disebabkan
masalah
fisik atau ada yang harus dibereskan pada sistem pencernaannya, maka
muntahnya
bukan merupakan penolakan. Akan tetapi kalau muntah disebabkan si kecil
mencari
perhatian dalam mengeskpresikan ketidaksukaannya pada makanan itu, baru
bisa
dikategorikan sebagai penolakan. Untuk memastikan penyebabnya, orang
tua dapat
memperhatikan kondisi anak. Misalnya apakah rewel atau tidak selagi
muntah
maupun sesudah muntah, demam atau tidak, dan apakah disertai gangguan
lain
semisal diare atau tidak. Jika jawabannya memang ya, kemungkinan si
kecil
mengalami masalah fisik dan ini sebaiknya segera dikonsultasikan ke
dokter
ahlinya.
* Menolak sama sekali
Wujud
penolakannya bisa
berupa memalingkan kepala, menutup rapat-rapat mulutnya, sampai
menangis keras
setiap kali disuapi. Penyebabnya lebih banyak karena faktor fisik,
seperti
gara-gara sariawan, atau terkena radang tenggorokan. Jadi, kalau si
kecil
menunjukkan tanda-tanda tadi, cermati dulu kondisi kesehatannya secara
umum.
Pastikan apakah ia sariawan atau tidak, gunakan termometer untuk
memastikan
suhu tubuhnya, apakah kondisi lidahnya bermasalah atau tidak, bibirnya
pecah-pecah, dan buang airnya lancar atau tidak. Kalau benar karena
kendala
fisik, lekas konsultasikan ke dokter.
Akan tetapi
jika tak ada
gangguan fisik kemungkinan besar si kecil melakukan gerak tutup mulut
gara-gara
faktor psikis. Tidak tertutup kemungkinan ia memang tengah mencari
perhatian
orang tuanya yang sudah sepanjang hari tidak dijumpainya, tak menyukai
menunya,
dan penampilan makanannya membuat bayi kehilangan selera makan.
1-3
TAHUN
SUKA
MENGEMUT MAKANAN
Makan
diemut menunjukkan si batita belum
berhasil melewati masa transisi dari makanan cair ke padat.
“Ayo dong, Nak,
makanannya dikunyah!
Jangan diemut gitu ah!” ujar seorang ibu dengan nada kesal pada
putrinya. Maklum si ibu sudah harus berangkat bekerja, sementara buah
hatinya
tak kunjung menelan makanan dalam mulutnya.
Ilustrasi
tersebut
memberi gambaran betapa susahnya mengatur perilaku makan anak batita.
Ia seringkali
menunjukkan sikap tidak kooperatif. Sebetulnya, sikap ini bisa dibenahi
dengan
mengajari anak biasa “makan sendiri” sejak bayi. Pada saat makan ia
sudah dibiasakan memegang sendok sendiri, menyendok makanan, dan duduk
di kursi
khususnya (setiap kali hendak disuapi). Jadi, bukan dengan
menggendongnya
sambil berjalan-jalan. Pengenalan-pengenalan semacam itu pasti akan
membuat
anak di usia batita jadi lebih cepat menyesuaikan diri.
Kendati awalnya
mungkin
merepotkan, seiring dengan berjalannya waktu, “kerja keras” dan
segala kerepotan orang tua mengajari anak makan sendiri akan membuahkan
hasil.
Ini berarti anak tak perlu bergantung pada orang lain saat memenuhi
kebutuhan
makannya. Selain itu orang tua pun diuntungkan dengan tak perlu
terus-menerus
“bertengkar” hanya gara-gara persoalan sulit makan ini. Sementara
anak pun jadi lebih disiplin. Saat jam makan tiba, anak akan duduk
manis siap
menyantap makanan yang tersaji di hadapannya.
Saat mulai
mengajak anak
untuk makan sendiri, ciptakan suasana yang menyenangkan. Usahakan pula
supaya
tak terkesan memaksa dalam bentuk apa pun. Untuk tahap awal, orang tua
bisa
memberikan contoh bagaimana cara makan yang baik: dari duduk manis,
bagaimana
cara memegang sendok kemudian mengangkatnya, menyuapkannya ke mulut,
kemudian
mengunyahnya dengan benar. Dengan melihat contoh konkret tersebut anak
jadi
punya gambaran mengenai apa yang harus dilakukannya dengan makanan
tersebut.
Mengenalkan
menu makanan
pun harus dilakukan secara bertahap. Mulailah dari makanan yang
bertekstur
paling halus sampai yang kasar, dari lauk yang sederhana hingga yang
komplet.
Dengan kata lain, makan pun merupakan proses pembelajaran. Kemudian di
saat
anak sudah mau melakukannya sendiri, orang tua perlu memotivasi.
Misalnya
dengan memberi semangat atau pujian lewat ucapan, “Anak Mama pintar ya,
sudah bisa makan sendiri.” Dengan demikian anak akan merasa nyaman dan
jadi bersemangat untuk berusaha makan sendiri.
Irfan
Hasuki. Foto:
Ferdi/nakita
Konsultan Ahli:
Ade Irma Salihah, Psi.,
dari Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatulah,
Jakarta